Alibi Trump Di Balik Serangan Brutal Kematian Qasem Soleimani

Spread the love

Agupena – Mancanegara, Kematian Qasem Soleimani, Jendral kesayangan rakyat Iran membuka celah perang besar antara Iran dengan Amerika Serikat. Jenderal Garda Revolusi Iran itu tewas mengenaskan di bandara Baghdad, seperti dilaporkan CNN, 4 Januari 2020, melalui serangan drone, pesawat tanpa awak.

Seperti dilansir dari Reuters (4/01/20), ikut tewas pada insiden itu adalah pemimpin milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, segera memicu kemarahan pejabat Hisbullah untuk melancarkan serangan balas dendam kepada AS.

Ulah Trump, presiden AS yang melancarkan operasi militer itu telah berdampak pada keluarnya ratusan pegawai perusahaan minyak asing Amerika meninggalkan kota Basra, Irak selatan, pada Jumat 3 Januari 2020. Hal serupa dimaklumatkan oleh pemerintah Inggris dan beberapa negara uni Eropa kepada rakyat mereka agar menunda perjalanan mereka ke Irak maupun Taheran.

Serangan mendadak itu bagaikan skenario Trump dengan alibinya bahwa dia sedang menyelamatkan Amerika. Penyerangan terhadap Qasem adalah upayanya untuk mencegah Jendral yang berumur 62 tahun itu berencana melaksanakan serangan militer terselubung terhadap AS, seperti dituduhkan oleh Trump, Qasem Soleimani adalah dalang penyerangan terhadap beberapa kedubes AS beberapa waktu lalu.

Pada hari Jumat, Reuters kembali menginformasikan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersumpah akan melakukan pembalasan keras terhadap “penjahat” yang membunuh Soleimani dan mengatakan kematiannya akan mengintensifkan perlawanan Republik Islam terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ancaman ini membuahkan tanda tanya apakah perseteruan tersebut akan memicu perang dunia III ataukah ancaman balik Ayatollah hanya memanaskan sumbu perseteruan di awal.

Trump sendiri melunakkan maksud dari tujuannya bahwa pembunuhan itu adalah cara terbaik untuk menghindarkan konflik berkepanjangan manakala Soleimani berhasil melakukan penyerangan terhadap diplomat dan tentara AS. Namun demikian banyak pengamat meragukan apakah Trump memiliki otoritas yang kuat untuk membunuh Soleimani di Irak tanpa menyalahi hukum Internasional, atau karena Trump menyembunyikan skenario lain di balik arogansinya.

Profesor Yale Law School Oona Hathaway, seorang ahli hukum internasional, mengatakan di Twitter bahwa fakta yang tersedia “tampaknya tidak mendukung” pernyataan bahwa pemogokan itu adalah tindakan membela diri, dan menyimpulkan itu “lemah secara hukum di bawah domestik dan domestik hukum internasional.”

Trump mungkin telah mengatur dengan manis alibinya untuk menghukum Soleimani sebagai upaya politik luar negerinya bahwa AS menjamin kemungkinan-kemungkinan damai jika orang seperti Soleimani dapat dilenyapkan sebelum mereka terlalu kuat untuk bisa ditaklukkan kelak. Apapun dalil Trump, Iran dan Irak telah mendidih dan menangis untuk pahlawan mereka, Jendral kharismatik yang telah melindungi Irak dari serangan Isis yang sebelumnya telah meluluhlantakkan Suriah dan Irak.

Tim Agupena

Sumber foto: reuters, telegraph, dan wikipedia


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *